| Home | Book-Literature | Inspiring-Religion | Economy-Business | Social-Cultural-Languange | Politics-Conspiracy | Health-Sport | Music-Movie | Femininity-Parenting |
Showing posts with label LGBT. Show all posts
Showing posts with label LGBT. Show all posts

Saturday, 14 November 2015

Seminar Nasional LGBT di UIN Malang Dibubarkan



Ada yang perlu digarisbawahi bahwa SSA (Same Sex Attraction) dengan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender) adalah suatu hal yang berbeda. Sayangnya terkadang kebanyakan orang menyamakannya dan kemudian menyimpulkan sesuatu tanpa diketahui kebenarannya. Banyak istilah yang ternyata rancu di masyarakat karena kurang pahamnya kita dengan istilah-istilah tersebut. Selain karena kita kurang kesadaran untuk mencari tahu juga karena ketidaksukaan kita terhadap sesuatu membuat kita menutup mata atas kenyataan yang ada dan bisa jadi membuat kita tidak dapat melihat kebenaran yang sebenarnya.

Beberapa orang mencoba untuk memberikan pencerahan, membagi ilmu dan pengetahuan mereka tentang SSA dan LGBT serta dengan tulus membantu orang-orang yang SSA namun tidak ingin tergabung dalam LGBT. Usaha mereka tidak hanya reaktif namun juga proaktif serta prefentif. Mereka adalah Sinyo Egie, seorang penulis, konselor dan founder Lembaga Konseling Peduli Sahabat. Juga pengurus Peduli Sahabat. Mereka mengadakan acara Seminar Nasional LGBT “Kenali, Pahami, Hadapi Bersama”. Acara ini merupakan hasil kerjasama DEMA-F Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan LSOK-LISFA Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Speaker adalah Sinyo, Zainul Anwar, M PSi. (Psikolog Klinis), Ilhamnu’din Nu’man, M Si. (praktisi psikologi Islam), dan bertindak sebagai moderator adalah Galuh Andina, M Psi. (psikolog sekaligus pengurus Peduli Sahabat) . Rencana acara diadakan tanggal 7 November 2015 di rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lantai 5 namun karena peserta mencapai 600 orang maka acara terpaksa dipindahkan ke gedung Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Batu.

Awalnya acara berjalan lancar meski ada beberapa peralatan yang saya rasa kurang mendukung. Sampai pada penyampaian materi oleh Sinyo yang seharusnya diletakkan di akhir, namun kemudian dipersilahkan mengawali untuk menghindari dugaan ormas-ormas yang mengira ini adalah acara dari aktivis kelompok LGBT. Dengan waktu yang sangat terbatas Sinyo berusaha untuk menyampaikan bagaimana awal beliau mengenal dunia LGBT dan kesulitannya dalam menghadapi prasangka buruk orang-orang dalam membantu para SSA yang tidak ingin menjadi LGBT dan usaha prefentif agar anak-anak tidak sampai menjadi SSA. Beliau melakukannya dengan menulis buku dan mendirikan organisasi non profit bernama Peduli Sahabat dan Menanti Mentari.

Namun belum selesai Sinyo menyampaikan seluruh materinya dan sesi berikutnya dilanjutkan, yaitu materi dari speaker lain yaitu psikolog. Acara dihentikan sejenak dengan adanya pengumuman dari panitia. Ternyata ada Ormas NU (Nahdhatul Ulama), GP Anshor yang kemudian memberikan komentar akan adanya acara ini dan mengaitkan dengan acara pro LGBT yang sebelumnya akan diadakan di FISIP UB dan hotel Swiss Bellin namun kemudian berhasil mereka gagalkan. Mereka mengatakan jika timing acara ini kurang tepat. Mereka tidak berniat membubarkan acara seminar ini – katanya. Mereka mengatakan jika visi dan misi mereka sama dengan panitia/ penyelenggara acara ini. Mereka mengajak peserta untuk ikut menolak kegiatan pro LGBT di Malang Raya. Mereka menginginkan adanya konsensus bahwa kegiatan seminar ini tidak akan mengarah pada usaha mendukung LGBT. Mengingat kelompok LGBT telah mendapat pencapaian dalam usaha pelegalan pernikahan sesama jenis. Tentu saja para peserta dan panitia menyetujui karena memang tujuan acara ini bukan untuk memberi dukungan kepada kelompok LGBT apalagi mendukung pelegalan pernikahan sesama jenis. Setelah dua orang wakil Ormas NU menyampaikan pandangan/ pendapat mereka kemudian mereka mempersilahkan panitia dan peserta melanjutkan acara seminar ini. Kemudian dari pihak UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga menyampaikan jika sebelumnya ada keberatan akan diadakannya acara ini. Namun acara ini tetap dilanjutkan dan mengundang ormas dan pihak yang keberatan dengan acara ini. Asumsi kami sebagai peserta mediasi telah dilakukan dan acara akan tetap diselenggarakan.

Kemudian panitia/ MC mengambil alih acara dan mempersilahkan untuk mengisi acara dengan game sebentar untuk sekedar refreshing katanya – atau dengan maksud mengurangi ketegangan. Baru beberapa menit peserta mengikuti intruksi yang diberikan untuk sekedar berdiri dan bermain, tiba-tiba acara sekali lagi dihentikan. Kemudian perwakilan panitia mengatakan bahwa mereka sudah berusaha keras untuk menyelenggarakan acara ini namun ternyata acara ini tidak bisa diteruskan. Peserta diminta untuk meninggalkan ruangan. Saya kurang tahu yang membubarkan acara ini apakah ormas yang sebelumnya telah sepakat untuk mempersilahkan dilanjutkannya acara ataukah pihak kampus UIN Malik Maulana Ibrahim, pihak kepolisian, atau pihak lain. Saya yakin peserta dan panitia kecewa dengan kejadian ini. Saya secara pribadi sangat kecewa.

Untuk mengurangi kekecewaan dan tetap berfokus pada usaha berbagi pengetahuan maka saya akan mengulas sedikit materi yang disampaikan Sinyo dan untuk medukung akan saya lengkapi dengan penjelasan yang saya dapat dari buku parenting beliau berjudul “Anakku Bertanya tentang LGBT”. Saya tidak dapat memberikan penjelasan lengkap pada seluruh materi karena belum semua disampaikan dan dibahas oleh pembicara karena keterbatasan waktu.           

Semoga postingan saya kali ini dapat memberikan gambaran kronologis kejadian pembubaran acara Seminar Nasional LGBT dan sedikit menjadi pengobat kehausan ilmu para pembaca blog saya.

Berikut ini beberapa istilah yang perlu kita pahami terlebih dahulu.
1. SSA (Same Sex Attraction)
Istilah ini digunakan untuk memaparkan bahwa seseorang mempunyai rasa ketertarikan seksual dengan sesama jenis (gender sejenis). Hal ini sebatas ketertarikan, akan berbeda dengan identitas seksual LGBT.
2. Homosexual
Homoseksual adalah identitas seksual selain heteroseksual dan biseksual. Di kebanyakan negara istilah homoseksual digunakan untuk menggambarkan dan menekankan pada tindakan hubungan seksual sesama jenis, baik didasari pada SSA ataupun tidak.
3. Gay dan Lesbian
Berbeda dengan SSA, gay dan lesbian mewakili identitas seksual. Jika anda tertarik dengan sesama jenis (SSA), anda belum dapat dikatakan sebagai gay sampai dapat menerima orientasi seksual tersebut dengan senang hati tanpa perlawanan sedikitpun atau tidak ada kegundahan ingin menjalani hidup seperti heteroseksual. Sebutan gay berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, sedangkan istilah lesbian hanya digunakan untuk perempuan.
4. Bisexual
Istilah ini digunakan untuk menyebut identitas seksual dan atau orang yang mempunyai ketertarikan seksual kepada sesama jenis dan lain jenis.
5. Transexual dan Transgender
Transexual adalah sebutan untuk orang yang ingin merubah kebiasaan hidup dan orientasi seksualnya secara biologis, berlawanan dengan yang dimiikinya sejak lahir. Sedangkan transgender adalah istilah untuk menunjukkan keinginan tampil berlawana dengan jenis kelamin yang dimiliki.
6. Intersexual
Istilah ini digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang secara biologis tidak dapat diklasifikasikan sebagai laki-laki maupun perempuan karena memiliki karakteristik keduanya.
7. Asexual
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak memiliki ketertarikan seksual (sex orientation) kepada siapapun atau apapun.
8. LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, & Transgender)
Saat ini istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan seseorang atau kelompok yang memilih identitas seksual selain heteroseksual. Saya katakan memilih karena individulah yang memutuskan dia akan hidup sebagai LGBT atau straight. Meski seseorang mempunyai SSA belum tentu dia akan memilih jalan sebagai LGBT.
9. Straight (Heterosexual)
Istilah ini digunakan untuk menyebut identitas seksual maupun orientasi seksual terhadap lawan jenis, atau lawan dari homosexual.
10. Homophobia
Istilah ini digunakan untuk menyebut tindakan atau orang yang anti-komunitas gay.

PENYEBAB, INDIKASI DAN ANTISIPASI
Menurut Sinyo penyebab dari munculnya SSA (Same Sex Attraction) pada seseorang berawal saat usia di bawah lima tahun (Balita). Menurut beliau usia tersebut adalah titik awal berbelok (pembentukan sudut pandang). Lalu apa saja yang dapat menjadi penyebab SSA, berikut diantaranya:
1. Anak butuh perlindungan (ketidaknyamanan) - salah model dikarenakan situasi atau kondisi yang memaksanya (terpaksa), hal ini dapat disebabkan antara lain karena:
a. Keluarga yang kurang harmonis atau broken home
b. Pola asuh atau mendidik anak dari bapak atau ibu yang otoriter (terlalu keras)
c. Dominasi ibu atau bapak
2. Anak yang terlalu dilindungi (over protected), hal ini dapat terjadi pada:
a. Anak bungsu (terakhir)
b. Anak tunggal
c. Anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda
d. Anak yang dianggap istimewa; bisa karena kepandaiannya, ketampanan/ kecantikannya.
3. Anak yang bebas (liar) – tidak adanya role model, hal ini dapat terjadi pada:
a. Anak sulung (yatim dan/ atau piatu)
b. Anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda
c. Anak dari keluarga yang sangat demokratis dibebaskan mengambil role model
d. Anak dari orang tua yang sibuk bekerja atau jarang berada di rumah (kurang kebersamaan)
 
Selanjutnya menurut Sinyo ada fase penguatan biasanya terjadi di umur enam sampai dengan sepuluh tahun:
1. Penguatan akibat trauma (luka jiwa), misalnya:
a. Kekerasan seksual (bagian dari pelecehan seksual)
b. Adegan kekerasan orang yang dicintai
2. Penguatan terhadap definisi – karakter:
a. Bully (penampilan, style, dan lain-lain)
b. Pola asuh (dandan, dan lain-lain)
c. Pilihan kesukaan (favorit film, karakter, dan lain-lain)

Umur 11 sampai dengan 14 tahun merupakan fase dimana anak mengalami kebingungan dan sekligus menjadi penguatan:
1. Seks pertama kali (keinginan/ mencari tahu) dari
a. Bacaan
b. Film
c. Dalam kehidupan nyata (termasuk kekerasan seksual)
2. Pemilihan kegiatan (mencoba mengatasi) antara lain:
a. Sepak bola
b. Pramuka
c. Membaca, menulis, puisi
d. Menari atau menyanyi (atau bidang kesenian lain)

Kemudian di usia 15 tahun ke atas merupakan fase pengkristalan
1. Self hypnosis (semakin jauh menyeret)
a. Bacaan (media, buku agama, dan lain-lain)
b. Ustadz (larangan, ketakutan, dan lain-lain)
c. Kelompok LGBT
2. Bergabung kelompok LGBT
3. Menyendiri (negatif)



“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena ALLAAH, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada ALLAAH, sesungguhnya ALLAAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(TQS. Al-Maidaah: 8)



 “Sesungguhnya ALLAAH menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya ALLAAH memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya ALLAAH adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(TQS. An-Nisaa’: 58)



“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

 (TQS. Al-Hujaraat: 6)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya ALLAAH akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya ALLAAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(TQS. Al-Mujadilah: 11)

Thursday, 22 January 2015

ANAKKU BERTANYA TENTANG LGBT

       Buku karya Sinyo (Agung Sugiarto) ini diterbitkan oleh Quanta, group Kompas Gramedia Elex Media Komputindo. Seperti buku sebelumnya,  Dua Wajah Rembulan (DWR) yang dierbitkan oleh Indie Pro Publishing, buku ini juga membahas tentang dunia LGBT (non-heteroseksual). Namun sesuai judulnya, dalam buku terdapat juga cara orang tua untuk melakukan pencegahan agar anak tidak melakukan tindakan homoseksual dan tidak mendapat pelecehan seksual; di sini pendidikan seks sejak dini sangat penting, serta hubungan baik antara orang tua dan anak - dalam hal ini termasuk komunikasi yang baik dan tebuka – sangat diperlukan. Tidak berhenti sampai disitu, ada juga kiat-kiat kita dalam menghadapi seseorang yang kita kenal telah melakukan tindakan homoseksual atau jika mengetahui anak kita sendiri mempunyai ketertarikan pada sesama jenis (Same Sex Attraction) atau mengakui dirinya seorang LGBT dan mugkin juga telah melakukan tindakan homoseksual.

       Sesuai dengan judul dan jenis bukunya tentunya. Bahasan tentang LGBT dibahas secara objektif dari berbagai sumber yang bisa dikatakan cukup mewakili dan berimbang. Hanya saja - menurut saya, seperti pada buku sebelumnya DWR yang sudah selesai saya baca juga - dapat saya nilai proporsi bahasan pencegahan dan solusi sangat sedikit dibanding dengan bahasan asal-usul, sejarah dan terkait serba-serbi dunia LGBT. Menurut saya akan lebih bagus lagi jika proporsi bahasan pencegahan dan solusi lebih banyak, atau paling tidak sama dengan serba-serbi dunia LGBT, mengingat buku “Anakku Bertanya Tentang LGBT” ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan, tips/ kiat-kiat para orang tua terkait dunia LGBT, pencegahan tindakan dan cara menghadapi seseorang yang “ketahuan” atau mengakui telah melakukan tindakan homoseksual maupun yang sekedar mempunyai ketertarikan sesama jenis.

      Buku ini tidak hanya diperuntukan bagi para orang tua yang peduli terhadap perkembangan anaknya, tapi juga para calon orang tua dan siapapun yang ingin mengetahui tentang LGBT sebagai bekal pengetahuan untuk menghadapi permasalahan terkait itu, apakah itu terjadi pada diri sendiri ataupun orang terdekat. Dasar atau sumber yang dipakai penulis tentu saja menurut ajaran Islam, namun dapat dipakai untuk umum, karena Islam adalah ajaran universal, rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin).

      Penulis (Sinyo) adalah seorang yang concern dengan masalah LGBT ini, bahkan beliau mempunyai group Peduli Sahabat sebagai wadah untuk teman-teman yang ingin berkonsultasi masalah ini. Semoga dengan semakin banyak buku dan group yang terkait LGBT ini akan membantu permasalahan LGBT dan orang-orang yang mencintai atau peduli terhadap mereka. Karena kita sebenarnya turut andil dalam hal ini, secara langsung maupun tidak. Ingatlah untuk tetap memandang mereka sebagai seorang “manusia seutuhnya” bukan hanya ingat “label mereka sebagai LGBT”.


RELATED POST:
DUA WAJAH REMBULAN




“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi ALLAAH petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Az-Zumar: 18)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.
(QS. Al-Israa’: 36)

“Orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah.”
(Sayyid Quthb)

”Siapa yang sanggup mengelola tekanan, dia yang layak disebut pahlawan.“
(Family DISCovery)

Monday, 19 January 2015

DUA WAJAH REMBULAN



     Buku ini telah menambah pengetahuan kita tentang dunia SSA (Same Sex Attraction) dan atau LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transexual) – termasuk juga Transgender, Interseksual dan Aseksual; yang bagi kebanyakan orang masih tabu untuk dibahas/ dibicarakan. Keunggulan dari buku ini adalah penulis (Sinyo)tidak berusaha memposisikan diri pada salah satu kubu yang banyak disebut/ ditetapkan orang dengan kelompok/ individu yang “pro” maupun “kontra” LGBT, karena mungkin memang bukan itu tujuannya. Menurut saya, tujuannya tentu saja mengedukasi pembaca terutama masyarakat awam tentang dunia SSA dan atau LGBT serta memberikan “alternatif pilihan” - untuk tidak saya katakan sebagai ajakan - bagi yang sudah “memilih” – untuk tidak saya katakan terjerumus – dalam dunia LGBT ataupun yang mempunyai orientasi SSA untuk “kembali” ke fitrah manusia (jalan lurus Islam bagi yang beragama Islam - dan sesuai agama yang dianut masing-masing - dimana menurut kesepakatan sebagian besar ulama dan tokoh agama dengan sumber kitab suci dan sabda Rasul serta menurut ilmuwan mengatakan bahwa fitrah manusia adalah heteroseksual, meskipun tidak menutup kemungkinan muncul ketertarikan terhadap sesama jenis). Memandang orientasi tersebut sebagai ujian adalah pandangan dan cara bersikap yang bijak. Lewat buku ini penulis mengingatkan dan mengajak kita untuk tidak serta merta menghakimi individu atau kelompok yang mempunyai orientasi selain heteroseksual, apakah itu SSA, dan kondisi lain, sebagai seorang “pendosa”. Penulis secara obyektif memberikan gambaran pandangan dari kedua kubu serta asal-usul dan sejarah tentang perilaku homoseksual dari berbagai sumber, bukti dan dasar.

    Namun masih ada beberapa kekurangan yaitu beberapa ejaan, bahasa, urutan, sumber dan menurut saya isinya yang terlalu/ lebih banyak teoritisnya (sejarah, pandangan, dsb) sedangkan isu utama terkait penelitian yang diambil yang menurut saya kurang, misal kisah nyata, fakta dan alternatif solusi. Jadi lebih pada proporsi isinya yang kurang seimbang, mungkin karena memang narasumber terlalu sedikit? Atau karena memang sifatnya eksposisi tidak seperti buku berikutnya “Anakku Bertanya tentang LGBT” (ABtL) yang mungkin lebih preventif, solutif dan aplikatif? Maaf saya belum selesai membaca buku yang terbaru ini. :)


    Mungkin ada yang bilang bahwa dunia hanya ada dua warna kubu/ blok, “hitam” dan “putih”, namun kenyataannya tidak seperti itu, diantara keduanya ada yang mengambil posisi di “tengah-tengah” (netral atau nonblok) dan sebut saja “abu-abu”. Begitupun dalam menyikapi individu atau kelompok dengan orientasi SSA dan atau perilaku LGBT, bahkan yang Interseks dan Aseksual sekalipun; tidak hanya ada yang Pro yang memperjuangkan hak-hak mereka, membela mereka, mendukung mereka, namun ada pula yang Kontra yang oleh lain pihak disebut Homophobia karena dianggap tidak mau mengerti, hanya bisa mencaci, menghina, menjauhi dan menyalahkan bahkan mungkin melakukan kekerasan baik secara fisik maupun psikis (verbal ataupun nonverbal). Diantara keduanya ada pihak ketiga yang tidak pernah dibahas atau muncul di permukaan. Dimana pihak ini menyadari dan mengakui individu dengan orientasi SSA dan atau LGBT, Interseks, Aseksual, serta kondisi lain memang ada di masyarakat dan mereka tidak menyalahkan, menghakimi, menjauhi, menghina dan mengutuk namun justru mencoba memahami sekaligus membantu individu dengan orientasi SSA dan kondisi Interseks maupun Aseksual untuk tidak serta merta memilih menjadi LGBT (Pro LGBT) dan atau tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri serta keluarga dan orang-orang tersayang/ terdekat (menyakiti diri sendiri misalnya atau menyakiti orang lain) dan dengan membabi buta menyerang Kontra LGBT.

     Karena budaya ketimuran yang masih sangat melekat di negeri kita - Indonesia, dan pengetahuan serta kebijaksanaan/ kedewasaan dan toleransi atau kepekaan/ kepedulian masyarakatnya yang kurang menyebabkan individu yang mempunyai SSA menjadi takut, malu, benci, bingung, terhadap kondisi dirinya dan tanggapan orang-orang di sekitarnya. Mereka tentu bingung harus bicara dan konsultasi ke mana/ ke siapa, sedangkan satu-satunya yang peduli terhadap mereka dan bisa menerima mereka adalah yang Pro LGBT (aktivis dan komunitas LGBT). Wajar jika semakin banyak jumlah mereka. Jika saja ada individu, kelompok, komunitas formal maupun non formal yang “abu-abu” atau “di tengah-tengah” tadi mau muncul dan semakin banyak; saya yakin akan semakin banyak orang yang terbantu; bukan saja individu dengan SSA, Interseks, Aseksual, dan pelaku LGBT, tapi juga teman dan keluarga mereka, organisasi masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Semoga semakin banyak orang-orang seperti penulis buku DWR (Mas Sinyo, salut saya :) ) yang dengan ikhlas membantu saudara-saudara kita untuk kuat menjalani cobaan/ ujian hidup yang berat tersebut. Yuk teman-teman, pembaca ikut mengedukasi masyarakat luas tentang masalah/ isu SSA dan atau LGBT ini. 

RELATED POST:
ANAKKU BERTANYA TENTANG LGBT 




“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.’ ”
(QS. Al Hijr: 56)

“Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
(QS. Asy-Syuura: 43 )

”Sesungguhnya ALLAAH tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd: 19)

”Siapa yang sanggup mengelola tekanan, dia yang layak disebut pahlawan.“
(Family DISCovery)